BANGKAPOSCOM - Sosok AL HABIB ALI ZAENAL ABIDIN BIN ALWY AL KAFF mungkin tak asing lagi untuk sebagian orang, namun bagi yang belum tahu, menghimpun biografinya dari berbagai sumber. Habib Ali Zaenal Abidin Alkaff lahir pada tahun 1987. Pria kelahiran Palembang ini dikenal sosok yang murah senyum. Berikut data lengkapnya. Poster10R + Bingkai Foto Habib Hadi bin Abdullah Al Haddar Banyuwangi. Rp 15.000. Grosir. Poster 10R + Bingkai Foto Habib Ahmad bin Hamid Al Kaff Palembang. Rp 15.000. Grosir. Poster 10R + Bingkai Foto Habib Ali bin Alwy bin Shihab Palembang. Rp 15.000. Grosir. Poster 10R + Bingkai Foto Habib Alwy bin Ahmad Bahsin Palembang. HabibHadi bin Alwi Al-Kaff dalam taushiahnya menyampaikan tentang taubat, "Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi selain syirik Allah akan mengampuni. yakni makam Habib Idrus Al-Hamid yang terletak di komplek makam Karangasem, Kabupaten Klungkung. Jama'ah membaca Yasin dan Tahlil dipimpin oleh Habib Abdullah HabibSholeh bin Muhsin al Hamid ( tannggul jawa timur. HABIB SHOLEH TANGGUL DAN PARA HABAIB. HABIB AHMAD BIN HAMID AL KAFF ( PALEMBANG) Habib Ahmad Masyhur bin Toha Al hadad. Habib Ja'far bin Ahmad alidrus. HABIB ALWI BIN MUHAMMAD AL HADAD (BOGOR) HABIB HUSEN BIN HADI AL HAMID ( JAWA TIMUR) TRIO HABIB BETAWI (HABIB ALI BUNGUR, HABIB ALI AlHabib Ahmad bin Hamid Al-Kaff adalah salah satu ulama besar yang berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau dikenal dengan wali masthur. Al Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Cikini adalah salah satu ulama generasi kedua dari garis keturunan keluarga al-Habsyi yang telah menetap di Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Ulama Kota Tegal, yang dikenal anti Syiah dan berbagai aliran sesat, Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff, meninggal dunia. Kabar duka ini disampaikan oleh akun Twitter Lembaga Informasi Front DPPLIF_ID pada Kamis 03/12/2020. “*إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ* *إِنْتَقَلَ إِلَى رَحْمَةِ اللّهِ تَعَالَى* TELAH BERPULANG KE RAHMATULLOH *الحبيب طاهر بن عبد الله الكاف تقال.* *AL-HABIB THOHIR BIN ABDULLAH ALKAFF TEGAL . لَهُ الفَاتِحَه….,” tulis akun tersebut pantauan pada Kamis malam sekitar pukul WIB. Kabar duka wafatnya Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hijrah, Kota Tegal, Jawa Tengah itu juga diinfokan berbagai pengguna media sosial lainnya. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Telah wafat Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff jam WIB. Semoga amal ibadah beliau di terima Allah SWT,” tulis akun infotegal infotegal, Kamis 03/12/2020 malam. Kabar wafatnya Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff juga diinformasikan di Fanspage Facebook “Al Habib Muhammad Reza Bin Muchsin Alhamid”, yang menuliskan ucapan belasungkawa dan doa untuk Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff disertai meme ucapan duka. Dikabarkan media, Habib Thohir wafat ketika menjalani penanganan medis di ruang ICU Rumah Sakit Mitra Siaga, Mejasem, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Kamis 03/12/2020 malam. Habib Thohir dikabarkan meninggal akibat penyakit stroke. Humas RS Mitra Siaga, Kabupaten Tegal, Sofyan Bahtiar saat dikonfirmasi membenarkan kabar duka itu. Habib Thohir wafat saat menjalani perawatan di ruang ICU, sekitar pukul WIB, Kamis 12/03/2020. “Iya betul beliau meninggal sekitar pukul WIB. Jenazah saat ini masih di rumah sakit,” ujar dikutip PanturaPost. Menurut informasi dari dokter dan perawat, menurut Sofwan, Habib Thohir masuk ke RS pada hari Kamis 03/12/2020 sekitar pukul WIB. Habib Thohir saat itu langsung dibawa ke ruang ICU untuk tindakan medis. Baca Prof Dadang Hawari Meninggal Dunia di RSCM Dakwah di Pelosok Desa Sebagaimana diketahui, Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff dikenal sebagai salah seorang tokoh Islam yang anti Syiah. Hampir dalam berbagai dakwah, entah dalam kesempatan majelis taklim, haul, ataupun seminar, Habib Thohir selalu memperingatkan beberapa kesesatan yang dilancarkan kepada kaum Muslimin di Indonesia. “Sebab, Islam di Indonesia, menurutnya, adalah Islam warisan Walisanga, yaitu Ahlusunnah wal Jamaah, bukan Syiah maupun Ahmadiyah, misalnya,” tulis pada 14 Desember 2018. Nama Habib Thohir lebih banyak dikenal oleh kaum Muslimin yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Sebab Habib Thohir lebih senang berdakwah di daerah-daerah bahkan sampai ke pedesaan. Habib Thohir berharap agar para ulama dan cendekiawan memiliki sikap dan kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama Ahlussunah Waljamaah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal furu’iyyah atau masalah cabang-cabang agama, seperti tahlil, Maulid, haul, dan lainnya. Habib Thohir adalah satu keluarga Al-Kaff yang disebut paling keras dalam berdakwah dari tujuh bersaudara anak lelaki Habib Abdullah Al-Kaff. Sebagai pendakwah, pria kelahiraan Tegal, 15 Agustus 1960, ini dikenal sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat. Berpostur tubuh tinggi tegap saat di mimbar, dai yang satu ini seperti singa podium. Ceramahnya berapi-api, membakar semangat jamaah. Terkadang nada suaranya baik air yang mengalir deras, penuh ketegasan. Gaya berdakwah sang dai memang sangat khas, dengan suara bariton yang berat dan dalam. Orasinya memang terkesan galak, penuh nada kritik namun bertanggung jawab. Dalam ceramahnya, sesekali ia selipkan canda-canda segar. Oleh karena itu, ribuan jamaah pengajiannya selalu betah mendengarkan sampai pengajian berakhir. Mengenakan baju koko putih dan bersarung, demikian tampilan sederhana habib yang sebagian besar waktunya habis untuk berdakwah ini. Masih ditulis media online tersebut, Habib Thohir mendapatkan pendidikan agama dari sang ayah, Habib Abdullah Al-Kaff, yang dikenal sebagai ulama senior di Jawa Tengah. Kemudian mengenyam pendidikan SD dan SMP Al-Khairiyah di Tegal. Baru pada tahun 1980, menjadi santri Sayid Al-Maliki di Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain Makkah. Dia menjadi santri selama enam tahun bersama adiknya, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaff. Habib Hamid, hingga berita tersebut dimuat, dikenal sebagai mubaligh dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain, Jalan Ganceng, Pondok Ranggon, Cilangkap, Jakarta Timur. Pulang ke Indonesia tahun 1986, Habib Thohir langsung terjun ke bidang dakwah. Ia pernah juga menjadi ustadz di sejumlah pesantren. Kini, pada 2018 itu, meski berkeluarga di Pekalongan, Habib Thohir lebih banyak membina umat di Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin. Di masjid yang terletak di Jalan Duku Tegal itulah, dia mengadakan majelis taklim yang diberi nama “Majelis Taklim Zainal Abidin”. Habib Thohir berharap, Pesantren Zainal Abidin, yang sejak lama digagasnya akan bisa dibangun di Tegal. Sebab, sudah banyak orangtua yang ingin menitipkan anaknya kepada ponpes tersebut.* SKR Al-Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff adalah salah satu ulama besar yang berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau dikenal sebagai waliyullah yang karomahnya tersembunyi atau disebut wali manakib beliau diceritakan banyak ulama dari penjuru Nusantara belajar kepada beliau. Palembang memang dikenal sebagai kota tempat bermukim dan berdakwah para habib dan ulama besar, demikian pula makam-makam mereka banyak ditemui di Palembang. Nama beliau adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai akhir hayat beliau tinggal di Jalan KH Hasyim Asy’ari No 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan, Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib satu karomah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff adalah adalah ketika beliau menziarahi orang tua beliau Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah Al-Jufri di Kampung Yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan deras sekali. Hanya beberapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujan pun diceritakan lagi, hampir setiap pagi buta, Habib Ahmad Al-Atthas menjemput muridnya ke rumahnya untuk salat subuh berjama’ah karena sangat menyayanginya. Saking akrabnya, ketika bermain-main di waktu kecil, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff sering berlindung di bawah jubah Habib Ahmad Al-Atthas. Ketika usia 7 tahun saat anak-anak lain duduk di kelas satu madrasah Ibtidaiyyah, Habib Ahmad belajar ke Tarim Hadramaut, Yaman bersama sepupunya Habib Abdullah yang akrab dipanggil sana mereka berguru kepada Habib Ali Al-Habsyi. Ada sekitar 10 tahun beliau mengaji kepada sejumlah ulama besar di Tarim. Salah seorang guru beliau adalah Habib Ali Al-Habsyi, ulama besar penulis Kitab Maulid Simtuth Duror. Selama mengaji kepada Habib Ali Al-Habsyi, beliau mendapat pendidikan disiplin yang sangat keras. Misalnya sering hanya mendapatkan sarapan 3 butir kurma. Selain kepada Habib Ali, beliau juga belajar tasawuf kepada Habib Alwi bin Abdullah Shahab. Sedangkan sepupu beliau Habib Endung belajar fiqih dan ilmu nahwu, shorof dan balaghoh. Sepulang dari Hadramaut pada usia 17 tahun, Habib Ahmad Al-Kaff menikah dengan Syarifah Aminah Binti Salim Al-Kaff. Meski usianya belum genap 20 tahun, namun beliau sudah dikenal sebagai ulama yag menjalani kehidupan zuhud dan mubaligh yang membuka majlis ta'lim. Dua di antara murid beliau yakni Habib Alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan Al-Gathmir belakangan dikenal pula sebagai ulama dan di Palembang, Habib Ahmad juga berdakwah dan mengajar di beberapa daerah di Indonesia, misalnya madrasah Al-Khairiyah Surabaya. Salah seorang murid beliau yang kemudian dikenal sebagai ulama adalah Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, ulama terkemuka di Jakarta, yang wafat pada tahun 4 Pesan SpritualKetinggian ilmu dan kewalian Habib Ahmad al-Kaff diakui oleh Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad, ulama besar dan wali yang bermukim di Bogor. Diceritakan pada suatu hari seorang habib dari Palembang Habib Ahmad bin Zen bin Syihab dan rekan-rekannya menjenguk Habib Alwi, mengharap berkah dan bahwa tamu-tamunya dari Palembang, dengan spontan Habib Alwi berkata, "Bukankah kalian mengenal Habib Ahmad bin Hamid al-Kaff? Buat apa kalian jauh-jauh datang ke sini, sedangkan di kota kalian ada wali yang maqam kewaliannya tidak berbeda denganku? Saya pernah bertemu dia di dalam mimpi". Tentu saja rombongan dari Palembang tersebut kaget. Maka Habib Alwi menceritakan perihal mimpinya. Suatu hari Habib Alwi berpikir keras bagaimana cara hijrah dari bogor untuk menghindari teror dari aparat penjajah belanda. Beliau kemudian bertawasul kepada Rasulullah SAW, dan malam harinya beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW memohon jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya. Yang menarik, di sebelah Rasul duduk seorang laki-laki yang wajahnya Rasulullah SAW pun berkata, "Sesungguhnya semua jalan keluar dari masalahmu ada di tangan cucuku di sebelahku ini". Dialah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Maka Habib Alwi pun menceritakan persoalan yang dihadapinya kepada Habib Ahmad Al-Kaff yang segera mengemukakan pemecahan/jalan keluarnya. Sejak itulah Habib Alwi membanggakan Habib Ahmad para waliyullah yang lain, Habib Ahmad Al-Kaff juga selalu mengamalkan ibadah khusus. Setiap hari misalnya, Mursyid Tariqah Alawiyah tersebut membaca shalawat lebih dari kali. Selain itu menulis kitab tatacara menziarahi guru beliau Habib Ahmad Al-Atthas. Beliau juga mewariskan pesan spiritual berisi empat pertanyaan mengenai ke mana tujuan manusia setelah empat pertanyaan itu bermula ketika Habib Ahmad Al-Kaff diajak oleh salah seorang anggota keluarga untuk menikmati gambus. Seketika itu beliau berkata, "Aku belum hendak bersenang-senang sebelum aku tahu apakah aku akan mengucap kalimat tauhid di akhir hayatku. Apakah aku akan selamat dari siksa kubur, apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku, apakah aku akan selamat dari jembatan shiratal mustaqim". Itulah yang dimaksud dengan empat pertanyaan’ yang dipesankannya kepada para murid, keluarga dan keturunannya. Habib Ahmad Al-Kaff wafat di Palembang pada 25 Jumadil akhir 1275H/1955M. Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks pemakaman Telaga 60, 14 Hulu Kota Palembang. Beliau meninggalkan lima anak yaitu, Habib Hamid, Habib Abdullah, Habib Burhan, Habib Ali dan Syarifah Khadijah.rhs Daftar Isi Profil Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf Kelahiran Wafat Pendidikan Pengasuh Pesantren Sosok Pendakwah Aswaja Pandangan Terhadap Terorisme Memaknai Jihad Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Teladan Kelahiran Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf lahir pada 15 Agustus 1960 di Tegal. Beliau merupakan putra dari tujuh bersaudara, dari pasangan Habib Abdullah Al-Kaff dan sang istri. Wafat Habib Thohir bin Abdullah Al-kaff wafat pada hari Kamis 3 Desember 2020, malam, pukul WIB. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di RS Mitra Siaga Kabupaten Tegal. Pendidikan Habib Thohir memulai pendidikannya dengan belajar agama kepada ayahnya, Habib Abdullah Al-Kaff, yang dikenal sebagai ulama senior di Jawa Tengah. Kemudian mengenyam pendidikan SD dan SMP Al-Khairiyah di Tegal. Baru pada tahun 1980, menjadi santri Sayid Al-Maliki di Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain Makkah. Dia menjadi santri selama enam tahun bersama adiknya, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaff. Habib Hamid kini dikenal sebagai mubalig dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain, Jalan Ganceng, Pondok Ranggon, Cilangkap, Jakarta Timur. Pulang ke Indonesia tahun 1986, Habib Thohir langsung terjun ke bidang dakwah, dan pernah juga menjadi ustaz di beberapa pesantren. Kini, meski berkeluarga di Pekalongan, dia lebih banyak membina umat di Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin. Di masjid yang terletak di Jalan Duku Tegal itulah, dia mengadakan majelis taklim yang diberi nama “Majelis Taklim Zainal Abidin”. Pengasuh Pesantren Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Hijrah Tegal. Sosok Pendakwah Aswaja Hampir dalam berbagai dakwah, entah dalam kesempatan majelis taklim, haul, ataupun seminar, Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf selalu memperingatkan beberapa kesesatan yang dilancarkan kepada kaum muslimin di Indonesia. Sebab Islam di Indonesia, menurutnya, adalah Islam warisan Walisanga, yaitu Ahlusunnah wal Jamaah, bukan Syiah maupun Ahmadiyah, misalnya. Nama Habib Thohir lebih banyak dikenal oleh kaum muslimin yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Karena dia lebih senang berdakwah di daerah-daerah, bahkan masuk di pedesaan. Habib Thohir berharap, para ulama dan cendekiawan mempunyai sikap dan kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama Ahlussunah wal Jamaah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal furu’iyyah masalah cabang-cabang agama, seperti tahlil, Maulid, haul, dan lainnya. “Jangan dianggap bahwa orang-orang yang menjalankan ritus ini tidak mempunyai argumentasi. Dan sewaktu berdebat dengan orang-orang semacam ini berarti berhadapan dengan saudara sendiri. Perlu diketahui juga, mayoritas umat Islam Indonesia adalah paham Ahlussunah wal Jamaah, yang senang tahlil, Maulid, haul, dan lain-lain. Dakwah semacam ini, dipastikan akan mendapat tantangan. Contoh di kota Mataram beberapa waktu lalu, sebuah pondok pesantren dibakar, karena melarang talqin. Ini bisa timbul di tempat lain,” katanya dengan nada penuh prihatin. Habib Thohir menambahkan, perdebatan semacam persoalan furu’iyyah sebaiknya segera diakhiri. Menurutnya perdebatan-perdebatan semacam itu sangat kontraproduktif bagi umat Islam. “Di saat kita membutuhkan energi, kekuatan, dan ilmu kita untuk sesuatu yang sangat berbahaya menimpa umat – terutama aliran sesat – kita kok masih berdebat soal khilafiyah?,” kata bapak dua orang putra ini. Karena panggilan rasa persatuan itulah, Habib Thohir senantiasa menggandeng semua pihak untuk bisa duduk bersama dan bahu-membahu membangun dan berdakwah untuk umat. “Jadi paham aliran sesat dan paham-paham di luar Islam, seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme perlu diluruskan. Ini dapat merusak akidah umat Islam, karena paham-paham ini mengarah para pemurtadan. Alasannya sudah cukup kuat, yakni memutuskan akal, merekayasa fiqih lintas agama karena fiqih Islam dianggap tidak demokratis, dan berupaya meragukan kaidah keislaman,” kata Habib Thohir lagi. Tekadnya untuk memerangi aliran sesat semakin mantap ketika dia menjadi pemrasaran dalam seminar Sekitar Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal pada 1997. Sikapnya terus berlanjut dengan berbagai seminar di dalam maupun luar negeri. “Kita diperintahkan oleh Nabi untuk bangkit, tidak diam. Mana yang bangkit? Siapa yang berjuang dan menantang arus ini pendangkalan akidah – Red.?” Pandangan Terhadap Terorisme Ketika disinggung tentang maraknya kegiatan terorisme yang banyak menimpa umat Islam, Habib Thohir dengan keras menentangnya. “Islam tidak mengenal teroris, keberadaan orang-orang yang melaksanakan kegiatan terorisme sangat merugikan citra Islam. Sehingga dilihat, seakan-akan Islam itu kejam, keras, tidak kenal kasih sayang.” Habib Thohir sendiri merasakan betapa masyarakat kita, dan skala yang lebih luas internasional, begitu ketat dalam menanggapi fenomena terorisme. Ia mengisahkan pernah “diinterogasi” petugas intelijen dan imigrasi di perbatasan antara Malaysia dan Singapura. Kisahnya bermula ketika dia mendapat undangan untuk mengisi peringatan haul di Masjid Ba’alawi Singapura. “Saya sampai dua jam diinterogasi, dikira teroris. Ditanya ini-itu, sampai menanyakan istri dan anak, pendidikan, sekitar dua jam. Sangat melelahkan. Itu salah satu imbas efek terorisme,” kata Habib Thohir. Bahkan tidak hanya terjadi ketika di Singapura. Pulang ke tanah air pun, dia masih merasakan efek terorisme. Ketika masuk bandara, mall, hotel, ia selalu diperiksa dengan ketat. “Ini semua karena efek samping’ suatu perbuatan saudara kita yang salah sasaran. Dan ini justru menjadi kesempatan bagi orang-orang di luar Islam untuk menjelek-jelekkan citra Islam,” komentarnya mengenai terorisme. Memaknai Jihad Karenanya, untuk menyudahi persoalan terorisme, Habib Thohir mengimbau umat Islam untuk mendefinisikan kembali makna dan hakikat jihad. Yakni, jihad tidak dibenarkan menggunakan bom. Menurutnya, teror bom hanya akan mengganggu kehidupan umat manusia. Jihad merupakan sarana dakwah, bukan tujuan, sehingga harus dilaksanakan secara baik, bermanfaat luas, dan jauh dari anarkisme dan kekerasan. Jihad itu mempunyai aturan main yang sangat luas. Jadi, berjihadlah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. “Kapan kita harus perang, kepada siapa kita berperang, dan siapa saja yang harus kita perangi? Perempuan, anak-anak, orang yang sedang beribadah sekalipun nonmuslim, tidak boleh dibunuh. Binatang tidak boleh dibunuh, bahkan pohon dan barang-barang pun tidak boleh dirusak!” Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Thohir Al Kaff asal Tegal memiliki cara sendiri untuk menciptakan kedamaian dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satunya dengan mengajak ribuan jemaah Rotibayn dan Wali Kota Tegal Nursholeh untuk menunaikan salat Subuh berjemaah di Kawasan Objek Pantai Alam Indah PAI Kota Tegal, Jawa Tengah. Menurut Habib Thohir, melalui Shalat Subuh berjemaah yang dilaksanakan di alam terbuka, jemaah dapat melihat langsung kebesaran ciptaan Allah SWT. Selain itu, menikmati alam juga membuat kedamaian di dalam hati. Ia menyebutkan keutamaan shalat subuh berjemaah yakni besarnya pahala yang setara dengan haji dan umrah. “Saya berharap dengan berbagai keutamaan tersebut umat Islam hendaknya dapat makin menggencarkan salat Subuh berjamaah,” kata Habih Thohir belum lama ini. Teladan Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat.

habib hamid bin abdullah al kaff