Pati Harga bawang merah mengalami penurunan yang sangat drastis. Ini membuat para petani bawang merah di Pati mengeluh dan meminta pemerintah memedulikan nasib mereka. Para petani bawang merah yang tergabung dalam Paguyuban Bawang Merah Pati (PBMP) pun mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Kamis (31/3/2022).
Bisniscom, JAKARTA - Bawang merah yang menjadi salah satu komoditas pangan strategis yang masih menunjukkan reli kenaikan harga pada hari ini, Rabu (6/7/2022). Kenaikan harga bawang merah disebabkan pasokan yang terbatas. Berdasarkan laporan data di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga bawang merah hari ini rata-rata naik 0,8 persen atau Rp500 menjadi Rp62.750 per kilogram
Petanibawang merah lokal di Kemukiman Bambi, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Ihsan, mengatakan pada awal musim panen pekan lalu harga jual bawang dari petani ke pensmpung Rp 40 ribu per kg. Lalu setelah musim panen semakin ramai sekarang harganya turun lagi menjadi Rp30 ribu/kg. "Awalnya Rp40 ribu/kg, kemudian turun menjadi Rp 30 ribu
Hargasejumlah kebutuhan pokok masyarakat di Pasar Manis, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengalami penurunan meskipun beberapa di antaranya masih tergolong tinggi ANTARA News jateng ekonomi
Hargabawang merah di Kabupaten Pati pekan ini sudah turun di harga Rp40 ribu per kilogram, dari sebelumnya di awal Juli Rp60 ribu per kilogram. Mitrapost.com. Harga bawang merah di Kabupaten Pati pekan ini sudah turun di harga Rp40 ribu per kilogram, dari sebelumnya di awal Juli Rp60 ribu per kilogram. - Mitrapost.com. Lewati ke konten. 29
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. - Harga bawang merah yang merangkak naik sejak Mei 2022, diperkirakan tidak berlangsung lama. Trend kenaikan saat ini merupakan imbas dari penurunan luas tanam saat bulan Maret lalu. Terlebih pada bulan tersebut, terjadi anomali cuaca yang cukup ekstrim dan kurang bersahabat bagi petani bawang merah. Dampaknya, terjadi pergeseran musim tanam yang berimbas pada turunnya produksi. Berdasarkan Data Statistik Pertanian Hortikultura SPH terpantau penambahan luas tanam pada bulan April dan Mei di berbagai sentra baik di Jawa maupun Luar Pulau Jawa. Alhasil panen bawang merah dalam beberapa hari ke depan di sentra seperti Bima, Pati, Brebes dan Probolinggo akan semakin marak. Berdasarkan data Early Warning System EWS Direktoral Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, produksi bawang merah nasional bulan April 2022 sebesar ton sementara bulan Mei sebesar ton. Meskipun produksi April-Mei 2022 turun sebesar 11 % namun secara neraca kumulatif dari produksi bulan sebelumnya terkalkulasi masih mampu memenuhi kebutuhan nasional. Produksi nasional bawang merah tahun lalu bahkan mencapai 2 juta ton, dan tahun ini diperkirakan tidak akan terpaut jauh. Sejak 2017 hingga saat ini, Indonesia tercatat sudah tidak mengimpor bawang merah segar/konsumsi. Peningkatan luas tanam di bulan April-Mei 2022 mengindikasikan bahwa produksi bulan Juni-Juli 2022 akan berangsur normal kembali. Menurut Sekjen ABMI, M Ikhwan Arif, adanya penurunan produksi di bulan April-Mei tidak terlalu mengkhawatirkan. "Luas tanam bulan April di Brebes saja lebih dari hektar. Belum lagi di daerah lain seperti Bima, Probolinggo dan Solok. Pasokan untuk bulan Juni-Juli ini dipastikan akan berangsur normal kembali," kata Ikhwan. Pihaknya menyebut bahwa secara nasional, penurunan produksi bawang merah masih dalam kondisi terkendali. Terkait pemberitaan yang menyebut 80 % bawang merah gagal panen, Ikhwan meluruskan hal tersebut. "Bahwa ada serangan OPT itu benar karena kondisi cuaca ekstrim. Bulan Juni ini kita biasa dengan kondisi kering, namun saat ini dimana-mana curah hujan masih cukup tinggi. Tentu ini mendorong tumbuhnya hama penyakit tanaman. Soal persentasenya tentu pemerintah lebih lengkap datanya," terang Ikhwan. "Sekaligus saya klarifikasi dan mohon maaf sekiranya ada persepsi yang salah dari pernyataan saya sebelumnya terkait penurunan produksi bawang merah," imbuhnya. Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum ABMI, Juwari, membenarkan bahwa bulan Juni ini pasokan bawang merah akan berangsur normal kembali. "Pertengahan sampai dengan akhir Juni diharapkan pasokan sudah mulai normal. Kenapa pasokan Mei sampai hari ini berkurang, karena memang penanaman di bulan Maret lalu kurang berhasil akibat cuaca yang tidak menentu. Kalaupun ada penurunan tidak separah tahun 2020 lalu, tahun ini masih lebih baik dan terkendali." ujar Juwari. Ahmad Sholeh, Petani bawang merah Kendal mengaku, menyebut kenaikan harga bawang merah saat ini akibat dari banyaknya petani terutama petani pemula yang enggan menanam lagi sebagai ekses dari jatuhnya harga akhir tahun lalu. "Banyak petani yg mengeluh rugi, karena akhir tahun lalu jatuh harganya. Gak kuat lagi modalnya. Tapi kalau untuk petani yang sudah biasa, tetap menanam," kata Sholeh. Harga pupuk dan obat-obatan yang tinggi saat ini diakuinya sangat mempengaruhi biaya produksi. "Jadi kalau harga saat ini dianggap tinggi, sebenarnya ya nggak. Lha wong harga sarana produksi sekarang udah ganti harga begini, jadi harga acuan di dalam Permendag pun perlu juga diperbaharui" tukasnya. Sholeh memprediksi minggu depan pasokan mulai banyak, karena di Pati dan Bima mulai panen. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengamankan produksi bawang merah. Menurut Tommy, setiap bulan pihaknya selalu memantau dan memperbaharui data perkiraan produksi untuk 1-2 bulan mendatang berdasarkan data terkini yang dihimpun dari berbagai sentra. Dalam berbagai kesempatan, Ditjen Horti disebutnya selalu menyampaikan perlunya kewaspadaan semua pihak terhadap upaya stabilisasi pasokan dan harga bawang merah ini. "Semua dalam pantauan dan terkendali termasuk permasalahan OPT dan dampak iklim. Percepatan tanam telah kami maksimalkan di lapangan. Kami optimis pasokan dan harga bawang merah Juni Juli ini akan kembali normal, sudah banyak panen di berbagai sentra yang siap dipasok ke pasar-pasar seluruh Indonesia" tandasnya.
Seorang petani memegang bawang merah. ilustrasi PATI - Petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengeluhkan rendahnya harga jual bawang merah karena saat ini harga jualnya hanya Rp per kilogram, sedangkan sebelumnya bisa mencapai Rp per kilogram. "Penurunan harga jual bawang merah mulai terasa pada awal Januari 2020 karena bulan Desember 2019 harga jualnya masih cukup bagus sehingga masih menguntungkan buat petani bawang," kata Ngatawi salah seorang petani asal Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Senin 13/1. Ia mencatat harga jual bawang merah sebelum pergantian tahun untuk harga bawang merah super mencapai Rp per kg, bawang merah ukuran sedang per kg dan untuk ukuran kecil Rp per kilogram. Sementara saat ini, kata dia, untuk ukuran tanggung saja dijual Rp per kg, sedangkan ukuran besar dijual dan super turun menjadi Rp per kg. Penyebab turunnya harga bawang merah, salah satunya karena banyaknya petani yang memanen diri tanaman bawang merahnya karena khawatir pertumbuhannya kurang baik menyusul cuaca hujan yang mulai meningkat. Akibatnya, stok bawang merah di pasaran melimpah, sedangkan permintaan cenderung stabil sehingga harganya turun. "Ketika tanaman bawang merah terlalu banyak air, maka buahnya cenderung mengecil sehingga hasil panennya juga menurun," ujarnya. Selain itu, saat ini juga banyak hama penyakit yang mulai menyerang karena curah hujan yang cukup tinggi sehingga banyak petani yang memilih panen dini. Kondisi tersebut, mengakibatkan para petani yang menjual bawangnya pada awal 2020 mengalami kerugian secara bervariasi. Ngatawi mengakui kerugian yang dialaminya untuk setiap hektarenya mencapai puluhan juta karena prediksi hasil penjualan bawang merahnya yang baru dipanen tidak sesuai harapan. Sedangkan, biaya produksi yang dikeluarkan per hektarenya hingga Rp 80 juta. Ia mengusulkan untuk mengatasi permasalahan harga jual bawang merah yang anjlok saat musim panen, maka dibuatkan gudang penyimpan untuk menunda penjualan sehingga ketika harganya meningkat bisa dijual kembali. sumber Antara
Harga Bawang Merah sejak minggu lalu mengalami kenaikan PATI – Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian Disdagperin, Kuswantoro menegaskan harga bawang merah di Kabupaten Pati naik sejak minggu kemarin. “Harga komoditas mulai minggu kemarin ada kenaikan yaitu utamanya bawang merah dan cabai,” kata Kuswantoro, Rabu 25/5/2022. Harga bawang merah per hari ini berdasarkan data yang dimilikinya yakni Rp45 ribu per kilogram. Padahal sepekan sebelumnya harga bawang merah di kisaran Rp35 ribu. Kenaikan harga bawang merah dan cabe itu menurutnya dikarenakan daerah penghasil kedua komoditas tersebut sekarang ini usai panen. Dengan begitu ketersediaan di pasaran juga berpengaruh menjadi berkurang lalu memengaruhi harganya. Tetapi, kata dia secara umum harga komoditas di Kabupaten setelah lebaran, seperti daging sapi, cabe ketiting, bawang merah cenderung menurun.adv Info Viral Berjudul Harga Bawang Merah Naik Sejak Minggu KemarinSebelumnya Sudah Tayang di samin-news*com Related postsJelang Porprov 2023, Henggar Resmikan Hall Senam4 Julukan Kota Pati yang TerkenalKonsultasi Publik Rancangan Awal RKPD 2024, Pj Bupati Pati Segala Aspek Perlu DitingkatkanKodim Pati Menguji Kemampuan Ratusan Prajuritnya Melalui UTP UmumPolresta Pati Gelar Operasi Keselamatan Lalulintas 2023, Knalpot Brong dan Kendaraan ODOL Jadi TargetBawaslu Pati Tekankan PKD Kuasai Regulasi Pemilu
PATI - Dikenal dengan semboyan Bumi Mina Tani, Kabupaten Pati yang terletak di pesisir utara Jawa merupakan salah satu penghasil bawang merah terbesar di Jawa Tengah setelah Brebes dan Demak. Bulan April ini saja setidaknya terdapat 549 hektare pertanaman bawang merah yang siap panen. Dengan luasan panen tersebut dipastikan mampu mendukung suplai bawang merah nasional terutama menjelang lebaran nanti. Meskipun wilayah Pati ditetapkan sebagai salah satu zona merah pandemi covid-19, tak menyurutkan semangat petani bawang merah setempat untuk tetap beraktifitas di lahan. “Kami saksikan sendiri betapa gigihnya petani bawang merah Pati dalam bekerja di lahan. Mereka seakan tidak gentar dengan Covid-19 yang menghantui masyarakat kebanyakan. Tetap bekerja di lahan namun protokol kesehatan juga tetap dijaga. Ini patut diapresiasi,” ujar Prihasto Setyanto, Direktur Jenderal Hortikultura dalam lawatannya memantau ketersediaan bawang merah dalam rangka kewaspadaan ketahanan pangan nasional selama pandemi Covid-19 di Kecamatan Wedarijaksa Pati Jawa Tengah, Jumat 24/4, dalam siaran persnya. Prihasto Setyanto mengatakan mereka terjun langsung ke lapangan bukan untuk pencitraan atau sejenisnya, tapi ini amanat Presiden langsung melalui Menteri Pertanian dalam menjaga ketahanan pangan. Sektor yang tidak boleh berhenti dalam kondisi kritis bagaimanapun. Mengapa? Karena pertanian mengurusi 267 juta perut rakyat Indonesia, tidak boleh main-main. Tidak tanggung, dalam lawatannya ke daerah tempatnya dibesarkan selama 20 tahun tersebut, pihaknya melakukan pantauan langsung di 3 lokasi sekaligus yakni Desa Ngurensiti dan Desa Bangsalrejo, Kecamatan Wedarijeksa serta Desa Tegal Arum, Kecamatan Jaken. “Hasil pantauan langsung hamparan pertanaman bawang merah disini sangat luar biasa. Bahkan di Kecamatan Jaken tanam bawang merah bisa dilakukan sepanjang tahun, bisa 4-5 kali setahun. Semakin meyakinkan kami bahwa pasokan menjelang lebaran nanti bakalan aman terkendali,” tukas pria yang disapa Anton itu optimistis. Anton menyampaikan bahwa Pemerintah akan selalu hadir di tengah-tengah petani. Mengantisipasi kecenderungaan fluktuasi harga di lapangan serta mencermati perkembangannya dan segera melakukan tindakan antisipasi dini. “Apabila harga tinggi dan menyentuh harga yang tidak wajar, maka dilakukan pemindahan hasil produksi dari daerah surplus ke daerah minus dengan membiayai ongkos kirimnya. Sedangkan jika harga jatuh, maka mendorong petani melakukan tunda jual dengan penyimpanan hasil produksi pada gudang-gudang berpendingan dijual sampai harga membaik, “ lanjut Anton menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pertanian sebagai garda terdepan dalam pengelolaannya dan pemerintah pusat berperan menyediakan itu Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman saat ditemui menyatakan pihaknya optimistis pasokan bawang merah menjelang dan pasca lebaran betul-betul aman. “Kami sudah cek langsung di lapangan, Brebes dan Demak kami pantau kemarin hamparannya luas sekali bahkan bisa terlihat saat menyusuri jalan tol. Demikian juga saat ini di Kabupaten Pati. Sementara di kabupaten sentra lain sesuai prediksi Early Warning System EWS yang kami susun juga menunjukkan trend positif. Pasokan selama puasa hingga pasca lebaran InsyaAllah aman, tinggal kita pantau terus harganya nanti,” Petani bawang merah Desa Ngurensiti Kecamatan Wedarijeksa mengaku senang dengan kondisi harga saat ini yang bertengger di angka Rp 30 ribu per kilogram kg di tingkat Petani. Pihaknya mengklaim dapat mengantongi uang senilai Rp 20 juta untuk ukuran satu kotak lahan setara meter persegi. “Harga sekarang lagi bagus Pak Dirjen, saya punya dua kotak aja wis banyak untungnya,” ungkapnya sumringah saat ditemui sedang memanen lahan miliknya. Pahdi berharap harga terjaga stabil bagus mengingat para petani di desanya sempat merasakan harga sangat rendah, hanya Rp 10 ribu per kg pada awal Januari Wedarijeksa tercatat memiliki luas panen bawang merah 393 hektare, tersebar di Desa Ngurensiti seluas 135 hektare di Desa Bangsalrejo seluas 71 hektare. Uniknya di Desa Bangsalrejo penanaman dilakukan secara serentak dan saat ini sudah memasuki umur 36 hari. “Sekitar 25 hari lagi siap panen untuk pasokan menjelang Lebaran. Rata-rata hasilnya juga tinggi bisa sampai 13,5 ton per hektare,” ungkap Ahmad Munjamil, koordinator Penyuluh Kecamatan di Kecamatan Jaken bisa dijumpai hamparan bawang merah seluas 200 hektare yang sebentar lagi memasuki panen raya. “Bawang merah di wilayah kami ditanamnya sepanjang tahun. Petani sangat memperhatikan soal budidaya ramah lingkungan. Contohnya dengan memasang likat kuning dan perangkap serangga lainnya yang dibuat secara sederhana,” ungkap Ngarjo, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman Kecamatan Jaken. “Cukup pakai mika plastik dan lem tikus, bisa awet dan efektif menghalau serangga sampai 25 hari. Terlihat tanaman kami bagus-bagus. Kalau untuk memasok kebutuhan puasa dan lebaran, kami siap lah,” pungkas Ngarjo meyakinkan. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
Laporan wartawan Endrapta Pramudhiaz JAKARTA - Bawang putih menjadi komoditas pangan yang belakangan menyita perhatian banyak pihak karena harganya yang meroket. Per Kamis 8/6/2023, harga bawang putih menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis PIHPS Nasional sebesar Rp per kilogram kg. Harga tersebut telah melonjak naik sejak pekan lalu dari Rp menjadi Rp per kg. Baca juga Ombudsman Wanti-Wanti Kemendag Transparan soal Impor Bawang Putih, Jika Abai akan Diinvestigasi Data dari Sistem Pemantaun Pasar dan Kebutuhan Pokok SP2KP Kementerian Perdagangan juga mencatat adanya kenaikan harga bawang putih. Harga bawang putih honan selama sepekan ini naik Rp 200 atau sebesar 0,53 persen, menjadi Rp per kg. Kenaikan ini menyita perhatian banyak pihak di dalam negeri, salah satunya Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam. Ia pun menduga kenaikan harga ini disebabkan oleh rendahnya pasokan karena perizinan impor yang sulit, dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pun perlu membentuk Tim Khusus Timsus pemberantasan mafia bawang putih. Hal itu disampaikan Mufti dalam rapat kerja raker Komisi VI DPR dengan Kementerian Perdagangan Kemendag di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa 6/6/2023. "Harapan kami mulai hari ini dibentuk tim khusus agar bagaimana ini bisa diatasi, begitu pak menteri," ujar Mufti dalam rapat kerja raker Komisi VI DPR dengan Kementerian Perdagangan Kemendag di Gedung DPR RI, beberapa hari lalu. Dalam raker tersebut, Mufti menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada Mendag Zulkifli Hasan terkait sulitnya para importir bawang putih mendapatkan izin impor. Mufti mengaku mendapatkan informasi bahwa banyak pelaku usaha yang kesulitan mendapatkan Surat Persetujuan Impor SPI bawang putih. Padahal para importir sudah mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura RIPH. "Banyak pelaku importir bawang putih mengeluhkan bahwa mereka sulit mengimpor, padahal mereka sudah punya RIPH. Ada 163 yang sudah dikeluarkan pada bulan Februari 2023 ini sampai hari ini yang dikeluarkan cuma 35," ujar Mufti dalam rapat kerja dengan Kemendag, Selasa.
harga bawang merah di pati hari ini