telahhilangnya rasa kasih sayang dan sifat kelembutan dalam diri seseorang menyebabkan lahirnya tindakan kekerasan dan penganiayaan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak serta menimbulkan kerugian serta penderitaan kepada orang lain, padahal islam telah,mensyari'atkan perlunya manusia itu bersifat lemah lembut kepada sesama dan Carilahayat dan hadits yang berhubungan dengan menghindarkan diri dari tindak kekerasan! 2. Jelaskanlah pesan-pesan yang terdapat pada ayat dan hadits yang kamu temukan itu! Kata Kunci: Dalil Naqli menghindari tindak kekerasan, hadis tentang menghindari tindak kekerasan, contoh tindak kekerasan. Itu Surah Al-hujarat ayat 10, (Al-Hujarat/49 AlMa'idah/5 ayat 32 tentang Menghindarkan Diri Dari Tindak Kekerasan; Menerapkan Qs. Yunus/10 ayat 40-41 dan Qs. Al-Ma'idah/5 ayat 32 serta Hadits-hadits terkait dalam kehidupan sehari-hari. Mempunyai Karakter yang Religius, Toleran, Rukun Dan Damai; Semoga bermanfaat. Tulis diskusi dan pertanyaan kalian di kolom komentar dibawah, terimakasih. Terjadinyabanyak tindak kekerasan adalah suatu bukti lemahnya pemahaman budi pekerti dan norma agama yg dimiliki,bagaimana menurut anda cara yg benar untuk . 2.4 menunjukkan sikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Artinya "Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain (qisas), atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. الحمد لله، أحمدك يامن تنزÙهت ذاته عن الأشباه ÙˆØ§Ù„Ù†ØØ§Ø¦Ø±ØŒ وأشكرك شكرا، وأسألك غاية Ø§Ù„Ø¯ÙØ§Ø±ÙŠØ©ØŒ ودوام العناية بالهداية والوقاية، وكشف ØØ²Ø§Ø¦Ù† الأسرار، Ù„Ø§Ø³ØªØØ±Ø§Ø¬ درر البحار من كنز الدÙقائق، وأصلي وأسلÙÙ… على نبيÙÙƒ Ø§Ù„Ø³ÙØ±Ø§Ø¬ Ø§Ù„ÙˆÙ‡ÙØ§Ø¬ وصدر Ø§Ù„Ø´ÙØ±ÙŠØ¹Ø© صاحب المعراج، وحاوي المقامات الرÙفيعة، وعلى آله الØÙاهرين، وأصحابه الظاهرين، ÙˆØ§Ù„Ø£Ø¦Ù…ÙØ© المجتهدين، اعدلوا هو أقرب للتقوى واتÙقوا الله إن٠الله ØØ¨ÙŠØ± بما تعملون، Ø£Ù…ÙØ§ بعد. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhānahu Wata’ālā Allah berfirman di dalam Al-Qur’an لَئِنْ بَسَØÙ’تَ إِلَيÙÙŽ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِØÙ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنÙِي Ø£ÙŽØÙŽØ§ÙÙ اللÙÙŽÙ‡ÙŽ رَبÙÙŽ الْعَالَمِينَ Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan alam semesta QS. Al-Māidah 28. Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa menghindari kekerasan dan mengedepankan perdamaian. Ayat ini terkait dengan peristiwa ancaman pembunuhan pertama dalam kehidupan manusia yang melibatkan dua anak Nabi Adam as Qabil dan Habil. Menurut sebagian ulama, anak yang mengancam akan membunuh adalah Qabil. Sedangkan yang diancam adalah Habil, adik kandung Qabil. Dalam kitab tafsir Mafātih AL-Ghayb Imam Ar-Razi melansir satu pernyataan menarik terkait ayat di atas. Mengapa pihak yang diancam tidak menggerakkan tangannya untuk membela diri? Padahal membela diri diperbolehkan? Tetapi mengapa, pihak yang terancam justru mengatakan, “Aku takut kepada Alla SWT?” Menurut Imam Ar-Razi, ada beberapa jawaban terkait dengan pernyataan di atas. Salah satunya adalah bahwa tanda-tanda kesungguhan bagi ancaman pembunuhan tersebut sangatlah kuat. Dalam hal ini, pernyataan pihak yang diancam sebagaimana dalam ayat untuk mengingatkan pihak yang mengancam; bahwa pembunuhan adalah perbuatan yang sangat tercela; dan yang terpenting adalah bahwa Tuhan Maha Pengasih melarang keras tindakan kekerasan. Jawaban lainnya adalah, masih menurut Imam Ar-Razi, bahwa “Aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk tujuan Aku akan menggerakkan tanganku hanya sebatas melindungi diri dari ancamanmu. Sebagaimana ditetapkan dalam kaidah hukum, tindakan membela diri harus dimulai dari yang paling ringan dan steril dari maksud pembunuhan. Apabila sejauh itu pembunuhan masih tak dapat dihindari, maka orang yang membela diri terselamatkan dari dosa-dosa akibat pembunuhan. Apa yang disampaikan ayat di atas sangat menarik untuk konteks kita saat ini. Di mana ancaman pembunuhan, ancaman terhadap kebebasan berkeyakinan dan kekerasan lainnya kerapkali terjadi. Cukup ironis, karena sejumlah tindakan kekerasan yang ada acapkali melibatkan simbol-simbol agama, bahkan atas nama agama. Dalam konteks ini, kandungan ayat di atas menjadi sangat menarik, karena ancaman kekerasan yanga ada dihadapi dengan kelembutan. Padahal, ditinjau dari perspektif tata-nilai manapun, membela diri adalah tindakan yang diperbolehkan. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhānahu Wata’ālā Dalam beberapa waktu terakhir, kekerasan merupakan salah satu problem serius yang dihadapi bangsa ini. kita layak prihatin bukan semata-mata karena gejala kekerasan menunjukkan grafik yang kian naik dengan tingkat eskalasi yang terus meluas, tetapi juga karena negara sebagai satu-satunya lembaga yang diberi otoritas menggunakan kekerasan untuk mewujudkan tertib sosial, seolah-olah tidak berdaya menghadapi masalah itu. Kegagalan negara mengatasi masalah kekerasan membuat bangsa ini seperti kembali ke zaman primitif di mana penyelesaian masalah selalu menggunakan cara-cara kekerasan. Kekerasan yang terjadi belakangan ini lebih dari sekedar patologi individu seperti terlihat pada berbagai kasus kriminalitas. Kekerasan juga mencerminkan patologi sosial, di mana masyarakat cenderung main hakim sendiri dalam menghadapi kasus-kasus kriminal seperti pencurian, penjambretan, percopetan dan lain sebagainya. Ada semacam dendam sosial terhadap kejahatan yang kian berani dan terang-terangan menghukum pelakunya dengan cara yang lebih sadis. Lebih dari itu, seringkali kekerasan dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Tindakan main hakim sendiri terhadap tempat-tempat yang dianggap sebagai sarang maksiat dengan mengobrak-abrik secara bringas justru membuat citra Islam semakin tercoreng. Dalam Islam, tidak ada pihak yang berhak menggunakan kekerasan kecuali negara. Penggunaan kekerasann oleh negara pun tidak bisa sewenang-wenang, tetapi dalam rangka menegakkan hukum, seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an فَلَا وَرَبÙِكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتÙَىٰ يُحَكÙِمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ØÙÙ…ÙÙŽ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمÙَا قَضَيْتَ وَيُسَلÙِمُوا تَسْلِيمًا Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu Muhammad hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya QS. An-Nisā’ 65. Sebagaimana kisah agama-agama samawi lainnya, Islam hadir pada saat masyarakat betul-betul membutuhkan “juru selamat” dari keterpurukan moral, sosial, ekonomi maupun politik. Malalui Nabi sebagai pembawa risalah Tuhan, agama hadir untuk melawan berbagai bentuk penindasan dan kezaliman guna mewujudkan tatanan baru yang lebih berkeadilan, berkemanusiaan dan berkeadaban. Sebagaimana ditunjukkan dalam masa-masa awal Islam, Nabi Muhammad SAW ditentang keras oleh kaum Quraisy Mekah, bukan semata-mata Nabi membawa agama baru yang sama sekali berbeda dengan kepercayaan sebelumnya, tetapi karena terutama ajaran yang dibawa Nabi dapat mengancam kepentingan kaum elite Quraisy yang begitu dominan menguasai berbagai sumber daya, baik ekonomi, sosial, maupun politik. Dan, sebagaimana kita lihat dalam sejarah, keberhasilan Nabi membangun tatanan ekonomi, sosial, dan politik yang berkeadilan, berkemanusiaan dan berkeadaban lebih mengutamakan jalan damai melalui musyawarah ketimbang jalan kekerasan melalui perang. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhānahu Wata’ālā Adalah benar bahwa dalam Islam terdapat beberapa ajaran yang bisa dipahami membolehkan kekerasan seperti perang, baik ajaran yang bersumber dalam Al-Qur’an maupun Hadis. Namun yang harus dipahami adalah bahwa, ajaran-ajaran tersebut tidak terlepas dalam koridor membela diri. Salah satu dari ajaran tersebut adalah ayat Al-Qur’an surat Al-Haj ayat 39-40 yang berbunyi أُذِنَ لِلÙَذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنÙَهُمْ ظُلِمُوا وَإِنÙÙŽ اللÙÙŽÙ‡ÙŽ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ ٣٩ الÙَذِينَ أُØÙ’رِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ Ø­ÙŽÙ‚Ùٍ إِلا أَنْ يَقُولُوا رَبÙُنَا اللÙَهُ وَلَوْلا دَفْعُ اللÙَهِ النÙَاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِÙمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللÙَهِ ÙƒÙŽØÙÙŠØ±Ù‹Ø§ وَلَيَنْصُرَنÙÙŽ اللÙَهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنÙÙŽ اللÙÙŽÙ‡ÙŽ لَقَوِيÙÙŒ عَزِيزٌ Ù¤ Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong orang itu. yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata Tuhan kami hanyalah Allah QS. Al-Haj 39-40. Ayat di atas terkesan memberi legitimasi bagi semua aksi kekerasan. Dalam kenyataannya, ayat di atas tidak dalam konteks menyerang ofensif, tetapi lebih dalam konteks mempertahankan diri defensif. Kita dibolehkan menyerang hanya dalam keadaan diserang. Patut disayangkan, sebagian kelompok muslim mengartikulasikan ayat-ayat seperti di atas secara ofensif. Makna jihad, misalnya, bagi mereka tak lain adalah perang suci. Dan memenuhi panggilan jihad, menurut mereka, adalah kewajiban setiap muslim. Inilah yang menyebabkan citra Islam seolah-olah tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Bahkan sebagian pengamat Barat mengidentikkan Islam dengan terorisme. Pendapat ini, meskipun keliru, didasarkan pada tindakan sejumlah kaum muslim yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan, seperti terjadi dalam kasus ambruknya gedung pencakar langit, World Trade Center WTC di New York, bom Bali, bom di Kedubes Australis dan sejumlah kasus lainnya. Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhānahu Wata’ālā Manusia menempati posisi yang sangat sentral dalam Islam. Manusia adalah obyek ajaran, sekaligus subyek dan pelaksana dari ajaran tersebut. Tentu saja, status manusia yang demikian mulia, terhormat dan bermartabat, merupakan rahmat Allah subhānahu wata’āla. Keistimewaan manusia dibanding makhluk-makhluk lain sebagai ciptaan Tuhan karena kedudukannya sebagai wakil Allah di muka bumi khalÄfah yang mempunyai kemampuan khusus. Dalam kondisinya yang asli dan tinggi, manusia adalah suatu tanda yang ajaib dari suatu kekuasaan dan rahmat Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, tentu saja manusia harus memperlakukan manusia lain secara mulia juga. Anjuran untuk berbuat baik terhadap sesama manusia adalah salah satu ajaran inti dalam Islam. Itulah sebabnya, tidak ada satu pun alasan yang membolehkan seseorang untuk melecehkan orang lain. Islam menganjurkan berbuat baik, tidak hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Itulah sebabnya, kekerasan merupakan tindakan yang sama sekali tidak dibenarkan, baik kekerasan secara fisik maupun secara psikis. Karena itu, pembunuhan sebagai bentuk kekerasan yang paling ekstrem, betul-betul dilarang dan dikutuk sebagai dosa besar. Terdapat lebih dari 50 ayat dalam Al-Qur’an yang secara tegas menunjukkan bahwa membunuh adalah perbuatan tercela. Begitu tercelanya perbuatan membunuh sehingga Al-Qur’an menggambarkan orang yang membunuh satu orang sama dengan membunuh semua orang. Allah subhānahu wata’āla berfirman مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ Ø£ÙŽÙ†Ùَهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنÙَمَا قَتَلَ النÙَاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنÙَمَا أَحْيَا النÙَاسَ جَمِيعًا Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya QS. Al-Māidah 32 Di akhir khutbah ini saya ingin menekankan kembali, kekerasan dilarang keras dalam Islam. Aksi kekerasan seperti perang pun hanya diperbolehkan hanya untuk membela diri. Hal ini pun harus mengikuti peraturan yang sangat ketat, yaitu tidak merusak fasilitas publik seperti tempat ibadah, tidak menodai hari yang disucikan, dan tidak mengorbankan kelompok lemah seperti anak-anakn, kaum perempuan dan orang-orang tua renta. Dalam setiap perang yang dilakukan untuk membela diri, Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan para sahabatnya agar memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda إنØÙ„قوا بسم الله وفي سبيل الله تقاتلون أعداء الله، لاتقتلوا Ø´ÙŠØØ§ فانيا ولاØÙÙ„ا صغيرا ولا إمرأة ولا تغلوا. Berangkatlah dengan nama Allah, berperanglah di jalan Allah untuk memerangi musuh-musuh Allah; janganlah membunuh orang tua renta, tidak juga anak-anak, tidak juga perempuan dan janganlah bertindak angkuh. بارك اللÙÙ‡ لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني ÙˆØ¥ÙŠÙØ§ÙƒÙ… بما فيه من الآيات والذÙكر الحكيم وتقبÙÙ„ منÙÙŠ ومنكم تلاوته إنÙÙ‡ هو السÙميع العليم. Surat Al Maidah ayat 32 adalah ayat yang mengajarkan untuk menjaga kehidupan dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Berikut ini arti, tafsir dan kandungan maknanya. Surat Al Maidah termasuk madaniyah. Imam Ahmad meriwayatkan, surat ini turun ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang naik unta. Hampir saja paha unta itu patah karena begitu beratnya wahyu yang diterima Rasulullah. Demikian pula ayat 32 ini juga tergolong madaniyah. Surat ini dinamakan Al Maidah المائدة yang artinya hidangan karena di antara kandungan surat ini adalah kisah tentang turunnya al maidah hidangan dari langit setelah para pengikut Nabi Isa hawariyyun memintanya. Al maidah diminta hawariyyun sebagai bukti kerasulan Nabi Isa dan sekaligus menjadi hari raya bagi mereka. Surat Al Maidah Ayat 32 Beserta ArtinyaTafsir Surat Al Maidah Ayat 321. Besarnya Dosa Pembunuhan2. Besarnya Pahala Menjaga Nyawa3. Rasul Membawa Keterangan yang Jelas4. Banyak Orang Melampaui BatasKandungan Surat Al Maidah ayat 32 Surat Al Maidah Ayat 32 Beserta Artinya Berikut ini Surat Al Maidah Ayat 32 dalam tulisan Arab, tulisan latin dan artinya dalam bahasa Indonesia مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ Min ajli dzaalika katabnaa alaa banii isroo-iila annahuu man qotala nafsan bighoiri nfasin au fasaadin fil ardli fa kaannamaa qotalan naasa jamii’aa. Wa man ahyaahaa faka-annamaa ahyan naasa jamii’aa. Walaqod jaa-athum rusulunaa bil bayyinaati tsumma inna katsiiron minhum ba’da fil ardli lamusrifuun ArtinyaOleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. Tafsir Surat Al Maidah ayat 32 ini disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar dan Tafsir Al Munir. Harapannya, agar ringkas dan mudah dipahami. Kami memaparkannya menjadi beberapa poin dimulai dari redaksi ayat dan artinya. Kemudian diikuti dengan tafsirnya yang merupakan intisari dari tafsir-tafsir di atas. Baca juga Ayat Kursi 1. Besarnya Dosa Pembunuhan Poin pertama dari Surat Al Maidah ayat 32, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan besarnya dosa pembunuhan. مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Sebelum ayat 32 ini, Allah mengisahkan putra Adam Qabil membunuh saudaranya Habil. Yakni pada ayat 27 hingga ayat 31. Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Karena anak Adam pernah membunuh saudaranya secara aniaya dan permusuhan, maka Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil. Yakni Kami syariatkan, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” Ayat ini menunjukkan besarnya dosa membunuh tanpa sebab yang dibenarkan. Yakni membunuh satu orang seakan-akan ia membunuh seluruh manusia. Hukum ini tidak hanya berlaku bagi Bani Israel. Ia terus berlaku bagi kita. Karenanya ketika Abu Hurairah hendak menolong Utsman dengan menyerang para pengepungnya, Utsman melarangnya. “Hai Abu Hurairah, apakah kamu senang bila kamu membunuh seluruh manusia, sedangkan aku termasuk dari mereka?” “Tidak,” jawab Abu Hurairah. “Karena sesungguhnya bila kamu membunuh seorang laki-laki, maka seolah-olah kamu telah membunuh manusia seluruhnya. Maka pergilah kamu seijinku seraya membawa pahala, bukan dosa.” Said bin Jubair menafsirkan, “Barangsiapa menghalalkan darah seorang muslim, maka seakan-akan dia menghalalkan darah manusia seluruhnya.” “Yakni dalam hal dosanya,” kata Hasan Al Basri. 2. Besarnya Pahala Menjaga Nyawa Poin kedua dari Surat Al Maidah ayat 32, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan besarnya pahala menjaga nyawa manusia. وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Ibnu Abbas menjelaskan, maksud memelihara kehidupan adalah tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya. Sedangkan Mujahid mengatakan, memelihara kehidupan jiwa seorang manusia artinya menahan diri tidak membunuhnya. “Barangsiapa memelihara kehidupan seseorang, melarang pembunuhan terhadapnya dan tidak melakukan pembunuhan,” kata Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir. “Seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia, dengan menciptakan keamanan dan ketentraman bagi mereka. Serta menghilangkan kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran.” 3. Rasul Membawa Keterangan yang Jelas وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, Setelah Allah menerangkan besarnya dosa membunuh dan besarnya pahala memelihara nyawa, Dia menegaskan bahwa telah datang rasul-rasulNya dengan membawa bayyinah. Yakni keterangan yang jelas. Ibnu Katsir menjelaskan, bayyinah adalah hujjah-hujjah, bukti-bukti dan keterangan yang jelas lagi gamblang. 4. Banyak Orang Melampaui Batas ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. Poin ini adalah kecaman dan hinaan kepada Bani Israil karena mereka melakukan berbagai pelanggaran setelah mereka mengetahui keharamannya. Demikian pula orang-orang Yahudi di masa Rasulullah seperti Bani Qainuqa’, Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Sungguh Allah telah mengutus para Rasul dengan membawa keterangan yang nyata. Termasuk menjelaskan hukum-hukum terkait pembunuhan ini. Namun banyak di antara Bani Israil yang berlaku melampaui batas dalam melakukan pembunuhan dan tindak kejahatan. Ayat ini sekaligus mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan oleh Bani Israil di masa dulu, juga dilakukan orang-orang Yahudi di masa Rasulullah hingga hari ini. Banyak di antara mereka yang suka melampaui batas, membunuh dan melakukan tindak kejahatan. Palestina menjadi bukti korban kejahatan mereka. Baca juga Isi Kandungan Surat Al Maidah Ayat 32 Kandungan Surat Al Maidah ayat 32 Berikut ini adalah isi kandungan Surat Al Maidah ayat 32 Membunuh adalah dosa besar. Membunuh satu orang tanpa alasan yang dibenarkan, dosanya seakan-akan membunuh manusia nyawa manusia adalah pahala besar. Memelihara satu nyawa seakan-akan memelihara kehidupan manusia ini menunjukkan, Islam mengajarkan untuk menjaga kehidupan dan menjauhi tindak kekerasan. Allah telah mengutus para Rasul dengan membawa keterangan yang nyata, termasuk mengajarkan untuk menjaga kehidupan dan memperingatkan agar menjauhi tindak di antara Bani Israil yang melampaui batas, meskipun mereka telah mengetahui apa yang dilarang oleh ini juga berisi hinaan dan kecaman atas Bani Israel yang suka melampaui batas dan sering membunuh tanpa sebab yang dibenarkan. Demikian Surat Al Maidah ayat 32 mulai dari tulisan Arab dan latin, terjemah dalam bahasa Indonesia, tafsir dan isi kandungan maknanya. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita suka menjaga perdamaian dan memelihara kehidupan. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah] 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. 3 Hadits Tentang Toleransi Dan Menghindarkan Diri Dari Tindak Kekerasan Beserta Penjelasannya Muslim Terkini from bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. Toleransi, pendidikan, dan hadits nabi saw. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Toleransi, pendidikan, dan hadits nabi saw. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. Toleransi Kerukunan Dan Menghindari Tindak Kekerasan Kelompok Ppt Download from Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. Toleransi, pendidikan, dan hadits nabi saw. Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Pai Bab 11 Kelompok 5 Pptx Sikap Toleran Rukun Dan Menghindarkan Diri Dari Tindak Kekerasan Kelompok 5 1 Muhammad Wildan Widiyantoro 2 Naufal Course Hero from Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Hadis tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadis yang terkait tentang perilaku toleran, rukun dan menghindari tindak . 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Vokasi oleh isu dan melakukan tindakan. Toleransi, pendidikan, dan hadits nabi saw. Kekerasan dan melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan anarkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu sudah. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Bersikap toleransi ,rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai implementasi pemahaman qs. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Hadits Tentang Toleransi Dan Menghindarkan Diri Dari Tindak Kekerasan – Rpp Kurikulum 2013 Pkn X Rukun Dan Menghindarkan Diri Dari Tindak Kek Bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan sebagai.. 32, serta hadis tentang toleransi, rukun, dan. Serta hadits tentang toleransi dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Toleransi, pendidikan, dan hadits nabi saw. bersikap toleran, rukun, dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. bersikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan. Akhir-akhir ini, nilai kerukunan yang dijaga dengan baik oleh masyarakat mulai terkikis, mengalami degradasi. Semboyan bhinneka tunggal ika sudah mulai luntur dalam pemahaman dan pengamalan bisa dilihat berbagai konflik yang terjadi di berbagai daerah seperti yang mengatasnamakan agama. Konflik-konflik yang mengatasnamakan agama ini bahkan disinyalir telah mengancam terjadinya disintegrasi perpecahan dianugerahi oleh Allah Swt. berupa nafsu. Dengan nafsu tersebut, manusia dapat merasa benci dan cinta. Dengannya pula manusia bisa melakukan persahabatan dan permusuhan. Dengannya pula manusia bisa mencapai kesempurnaan ataupun kesengsaraan. Hanya nafsu yang telah berhasil dijinakkan oleh akal saja yang akan mampu menghantarkan manusia kepada sebaliknya, jika nafsu di luar kendali akal, niscaya akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesengsaraan dan kehinaan. Permusuhan berasal dari rasa benci yang dimiliki oleh setiap manusia. Sebagaimana cinta, benci pun berasal dari nafsu yang harus bertumpu di atas pondasi akal. Permusuhan di antara manusia terkadang karena kedengkian pada hal-hal duniawi seperti pada kasus Qabil dan Habil ataupun pada kisah Nabi Yusuf as. dan saudara-saudaranya. Terkadang pula permusuhan dikarenakan dasar ideologi dan melarang perilaku kekerasan terhadap siapa pun. Allah Swt. berfirmanArtinya “Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain qisas, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” al-Māidah/5 32Penerapan TajwidArti KataAllah Swt. menjelaskan dalam ayat ini, bahwa setelah peristiwa pembunuhan Qabil terhadap Habil, Allah Swt. menetapkan suatu hukum bahwa membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh seluruh manusia. Begitu juga menyelamatkan kehidupan seorang manusia, sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Ayat ini menyinggung sebuah prinsip sosial di mana masyarakat bagaikan sebuah tubuh, sedangkan individu-individu masyarakat merupakan anggota tubuh tersebut. Apabila sebuah anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut merasakan juga apabila seseorang berani mencemari tangannya dengan darah orang yang tak berdosa, maka pada hakikatnya dia telah membunuh manusiamanusia lain yang tak berdosa. Dari segi sistem penciptaan manusia, terbunuhnya Habil telah menyebabkan hancurnya generasi besar suatu masyarakat, yang bakal tampil dan lahir di dunia ini. Al-Qur’ān memberikan perhatian penuh terhadap perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, samadengan membunuh sebuah masyarakat. Pengadilan di negara-negara tertentu menjatuhkan hukuman qisas, yaitu membunuh orang yang telah membunuh. Di Indonesia juga pernah dilakukan hukuman mati bagi para al-Māidah/5 32 terdapat tiga pelajaran yang dapat Nasib kehidupan manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain. Sejarah kemanusiaan merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Karena itu, terputusnya sebuah mata rantai akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar umat Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka. Pembunuhan seorang manusia dengan maksud jahat merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi keputusan pengadilan untuk melakukan eksekusi terhadap seorang pembunuh dalam rangka qisas merupakan sumber kehidupan Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa manusia, seperti para dokter, perawat, polisi harus mengerti nilai pekerjaan mereka. Menyembuhkan atau menyelamatkan orang yang sakit dari kematian bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat dari kita bersama adalah menjaga ketenteraman hidup dengan cara mencintai tetangga, orang-orang yang berada di sekitar kita. Artinya, kita dilarang melakukan perilaku-perilaku yang dapat merugikan orang lain, termasuk menyakitinya dan melakukan tindakan kekerasan Indonesia ada hukum yang mengatur pelarangan melakukan tindak kekerasan, termasuk kekerasan kepada anak dan anggota keluarga, misalnya UU No. 23 Tahun 2002 dan UU No. 23 Tahun kita renungkan dan amati suasana kehidupan bangsa Indonesia. Kondisi bangsa Indonesia yang berbhinneka ini harus kita pertahankan demi ketenteraman dan kedamaian penduduknya. Salah satu cara mempertahankan kebhinnekaan ini adalah dengan toleransi atau saling menghargai. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kerukunan hidup antarsuku, ras, golongan dan agama harus selalu dijaga dan dibina. Kita tidak ingin bangsa Indonesia terpecah belah saling bermusuhan satu sama lain karena masalah di perilaku-perilaku toleransi yang harus dibina sesuai dengan ajaran Saling menghargai adanya perbedaan keyakinan. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain agar mereka mengikuti keyakinan kita. Orang yang berkeyakinan lain pun tidak boleh memaksakan keyakinan kepada kita. Dengan memperlihatkan perilaku berakhlak mulia, insya Allah orang lain akan tertarik. Rasulullah saw. selalu memperlihatkan akhlak mulia kepada siapa pun termasuk musuh-musuhnya, banyak orang kafir yang tertarik kepada akhlak Rasulullah saw. lalu masuk Islam karena Saling menghargai adanya perbedaan pendapat. Manusia diciptakan dengan membawa perbedaan. Kita mencoba menghargai perbedaan Belajar empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lalu bantulah orang yang membutuhkan. Sering terjadi tindak kekerasan disebabkan hilangnya rasa empati. Ketika mau mengganggu orang lain, harus sadar bahwa mengganggu itu akan menyakitkan, bagaimana kalau itu terjadi pada diri kita. Masih banyak lagi contoh perilaku toleransi yang harus kita miliki. Dengan toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan saling menghormati, akan terbina kehidupan yang rukun, tertib, dan Dalam kehidupan sehari-hari, sikap toleran perlu Dalam masalah keimanan aqidah dan peribadatan ibādah, kita berpegang pada keyakinan tanpa bergeser sedikit pun, tetapi tetap menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dengan Manusia diberi kebebasan untuk memilih agama atau keyakinan mana pun karena agama adalah hak azasi manusia. Akan tetapi, semua pilihan itu ada konsekuensinya. Manusia harus bertanggung jawab terhadap pilihannya Allah menjanjikan surga bagi yang bertaqwa dan neraka bagi orang-orang yang Dalam pergaulan hidup bermasyarakat antara umat Islam dan umat lain non-Islam hendaknya saling menghormati dan menghargai serta boleh bekerja sama dalam urusan dunia demi terwujudnya keamanan, ketertiban, kedamaian, dan kesejahteraan bersama. 3 CONTOH PERBUATAN KEJI UPAYA MENGHINDARI TINDAK KEKERASAN terhadap ilmu syari’at. Masih banyaknya orang-orang yang jahil bodoh terhadap syari’at islam, sehingga mereka kurang memahami tentang perintah-perintah yang wajib dilaksanakan dan larangan-larangan yang harus dijauhi dan ditinggalkan. Ilmu agama sesungguhnya sangatlah penting bagi setiap orang, karena perannya dalam mengarahkan manusia dalam menjalani hidup yang bersesuaian dengan kehendak Allah. Orang-orang yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-Nya يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al Mujaadillah 11 Selain dari itu kepada hamba-hamba-Nya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk menuntut ilmu, seperti yang disebutkan dalam firman Allah azza wa jalla وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. QS. At Taubah 9 2. Akhlak Yang TercelaSALING MENYAKITI Setiap prilaku, tindakan dan ulah dari seseorang yang tampak dipermukaan agalah gambaran dari bagaimana akhlaknya, apabila prilaku, tindakan dan sikap keseharian seseorang yang patut dibanggakan maka itu tiada lain adalah implementasi dari baiknya akhlak yang bersangkutan. Begitu juga seseorang yang dalam kesehariannya menunjukan prilaku yang tidak sopan, kasar, menyukai tindakan anarkis dan kekerasan, maka semua itu adalah gambaran dari akhlak yang jelek dari seseorang. Islam agama yang sangat mengedepankan dan memandang penting akhlak yang baik bagi para pemeluknya. Banyak sekali hadits-hadits yang membicarakan betapa pentingnya akhlak tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” HR. Al-Bukhari Sesungguhnya antara akhlak dengan aqidah terdapat hubungan yang sangatkuat sekali. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ .“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya HR. At-Tirmidzi Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ \ .“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” HR. At-Tirmidzi Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pula إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقاً “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya...” HR. At-Tirmidzi, Sesungguhnya islam memerintahkan kepada umatnya memiliki akhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang hina, karena dengan akhlak yang mulia maka seseorang tidak akan berbuat zhalim kepada orang lain. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda .سنن أبي داوود ٤١٦٨ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ حَارِثَةَ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ الْجَوَّاظُ وَلَا الْجَعْظَرِيُّ قَالَ وَالْجَوَّاظُ الْغَلِيظُ الْفَظُّ Sunan Abu Daud 4168 Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dan Utsman bin Abu Syaibah keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ma'bad bin Khalid dari Haritsah bin Wahb ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Tidak akan masuk surga orang yang keras hati dan sombong." Perawi berkata, "Al Jawwazh adalah orang yang keras hatinya. Setiap umat muslim diperintahkan untuk bergaul dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik, bukan melakukan keburukan dengan tindakan anarkis dan kekerasan, akan hal ini Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda سنن الترمذي ١٩١٠ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ مَحْمُودٌ وَالصَّحِيحُ حَدِيثُ أَبِي ذَرٍّ Sunan Tirmidzi 1910 dari Abu Dzar ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku "Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik." Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka kepada orang-orang yang suka berbuat keji lagi jahat dengan melakukan kezhaliman , sebagaimana hadits yang diriwiyatkan dari Abu Darda سنن الترمذي ١٩٢٥ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ مَمْلَكٍ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَأُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ Sunan Tirmidzi 1925 ` dari Abu Darda` bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Tidak sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.". Rasa Kasih Sayang Telah hilangnya rasa kasih sayang dan sifat kelembutan dalam diri seseorang menyebabkan lahirnya tindakan kekerasan dan penganiayaan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak serta menimbulkan kerugian serta penderitaan kepada orang lain, padahal Islam telah,mensyari’atkan perlunya manusia itu bersifat lemah lembut kepada sesama dan saling berkasih sayang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. QS. Ali Imran 159 . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ Itulah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri [1345]. QS. Asy Syuura 23 Firman Allah subhanahu wa ta’ala ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ Dan dia tidak pula termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. QS. Al Balad 17 Selain itu banyak pula hadits-hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang menyinggung perlunya saling kasih, saling menyayangi dan saling membantu diantara orang-orang mukmin, sebagaimana hadis riwayat Nukman bin Basyir Radhiyallahu 'anhu , ia berkataRasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّىحَدَّثَنَا إِسْحَقُ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَحْوِهِ Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam HR. Muslim . JAZAKUMULLAHUKHAIRAN...

hadits tentang menghindarkan diri dari tindak kekerasan